Postingan

Sebuah Cerpen Karya Emha Ainun Najib

Sebuah Cerpen Karya Emha Ainun Najib Dipublikasi pada Friday, 17 September 2004 oleh ephi Di Zawiyyah Sebuah Masjid Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid.  Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren. "Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat kembali ke Tuhannya," berkata Pak Kiai kepada santri pertama,  "apa yang Allah berikan kepada manusia selain alam dan diri manusia sendiri?"  "Agama," jawab santri pertama. "Berapa jumlahnya?" "Satu." "Tidak dua atau tiga?" "Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu, sebab memang mustahil dan mubazir...

Berdua bersama Hujan.

Gambar
Kali ini aku akan berkisah tentang hujan. Ini ceritaku bersamanya, petemuan beberapa waktu yang lalu.  Pertemuan yang sebenarnya tidak direncanakan, sama sekali. Disebuah taman yang rindang, di salah satu sudut kota pahlawan. Lebih tepatnya hujan yang mendatangiku, tanpa permisi. Ketika itu aku sedang merenung tentang sesuatu. Aku memikirkan tentang hidup, betapa aku merasa hidup ini sulit bagiku. Banyak cobaan datang silih berganti, satu belum selesai sudah datang yang lain. Aku memang biasa kesana saat aku butuh kesendirian, butuh ketenangan. Tidak ada yang membersamai kecuali keheningan. Ketika aku mulai melamun tak tentu arah, hujan mengagetkanku. Datang tak permisi. Begitu cepat dia membasahi sekujur tubuhku. Kawan, sebelum aku melanjutkan ceirtaku, aku ingin bertanya padamu apa yang engkau rasakan saat kau bertemu dengannya? Baiklah mungkin kau mau mendengar jawabanku terlebih dahulu. Baik, aku akan memberitahumu. Aku akan menjawab pertanyaan yang aku tanyakan padamu itu. Sa...

Sedikit Kisah Tentang Hati.

Perih kembali datang menghampiri. Hari ini aku bertengkar lagi dengannya, hal yang sebenarnya aku tak suka. Tapi ini niscaya. Perbedaan pandangan hidup kian terasa. Aku ingin menuju A sedang dia justru menuju titik balik dari keberangkatanku, dia berlabuh ke Z. Rasanya ingin ku bertahan, namun semakin bertahan justru semakin perih. Bukanlah kebahagiaan yang datang, justru perasaan sendu lah yang kian hadir menemani. Ah kenapa aku begitu melankolis hari ini. Ah memang cinta selalu melembutkan, walau kadang keterlaluan, terlalu lembut justru membuat ku lembek. Merasa aku lah manusia paling durjana dimuka bumi. Sungguh paling rugi dengan ketidakadilan yang terjadi. Tapi apa daya ini semua demi perjuangan masa depan. Tidaklah janji janji tentang utopia kegempitaan masa mendatang lah yang membuat ku masih tetap bertahan. Aku selalu meyakini bahwa setelah hujan badai akan ada pelangi, atau tidak akan ada pelangi tanpa ada hujan sebelumnya. Semoga saja. Kawan aku ingin ceritakan kepadamu tent...

Sambutan terakhir Aam Nugroho, sebagai Presiden BEM PENS 2017/2018.

Gambar
Kebersamaan yang Abadi Sepertinya baru kemarin ketika Al   Qur’an diletakkan diatas kepalaku, dan Kelvin sebagai Ketua DKM menuntunku mengucap sumpah jabatan satu periode kedepan. Rasanya baru kemarin aku mengenal 13 keluarga kabinet yang nanti akan menemaniku mengarungi samudera perjalanan kepengurusan 2017/2018. Sepertinya baru kemarin, aku memberikan sambutan kepada Staff Muda Kabinet Bersama di Wellcome Party. Sungguh aku merasa semua ini benar – benar baru saja dimulai. Dan ternyata hari ini, malam ini, detik ini, kebersamaan ini harus segera diakhiri. Kebersamaan yang sebenarnya enggan tuk di akhiri. Ingin ku bertahan dalam bingkai kebersamaan ini. Namun aku sadar bahwa perubahan adalah keniscayaan. Aku memahami sebuah kaidah bahwa setiap awal pasti ada akhir, dan setiap yang dimulai pasti akan selesai. Begitupun dengan Badan Eksekutif Mahasiswa PENS, sebagai organisasi eksekutif tertinggi di Keluarga Mahasiswa PENS sudah dujung masa transisinya. Kawan – kawan i...

Karya Bersama, sebuah platform membangun Negara Mahasiswa PENS (sebuah ikhtisar)

Gambar
KARYA BERSAMA Bersama Optimal, Bersama Harmoni, Bersama Kontribusi. LATAR BELAKANG 71 tahun sudah berlalu sejak Bapak Proklamator yaitu Soekarno – Moh Hatta memplokamirkan kemerdekaan Indonesia.Kita sepakati bersama bahwa kemerdekaan bukan hanya sebatas istilah, namun kemerdekaan adalah suatu peristiwa Maha besar bagi bangsa yang telah lama terjajah untuk mampu mewujudkan entitas kesejahteraan di atas kakinya sendiri.Hal itu menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia hadir bukan hanya dengan mimpi, tapi juga datang dengan janji untuk mensejahterahkan kehidupan umum, mencerdaskan kehidupan berbangasa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.Kemerdekaan seharusnya mampu diwujudkan dalam bentuk kemandirian sebagai suatu bangsa. Pemuda sebagai masa depan bangsa harus mampu untuk merepresentasikan hal itu. Pemuda yang digadang-gadangkan sebagai penerus peradaban dan eskalator kemajuan harus memiliki pandangan luas terkait masa depan bangsa dan negara. Sebagaimana yang tertera di da...