Sedikit Kisah Tentang Hati.
Perih kembali datang menghampiri. Hari ini aku bertengkar lagi dengannya, hal yang sebenarnya aku tak suka. Tapi ini niscaya. Perbedaan pandangan hidup kian terasa. Aku ingin menuju A sedang dia justru menuju titik balik dari keberangkatanku, dia berlabuh ke Z. Rasanya ingin ku bertahan, namun semakin bertahan justru semakin perih. Bukanlah kebahagiaan yang datang, justru perasaan sendu lah yang kian hadir menemani. Ah kenapa aku begitu melankolis hari ini. Ah memang cinta selalu melembutkan, walau kadang keterlaluan, terlalu lembut justru membuat ku lembek. Merasa aku lah manusia paling durjana dimuka bumi. Sungguh paling rugi dengan ketidakadilan yang terjadi. Tapi apa daya ini semua demi perjuangan masa depan. Tidaklah janji janji tentang utopia kegempitaan masa mendatang lah yang membuat ku masih tetap bertahan. Aku selalu meyakini bahwa setelah hujan badai akan ada pelangi, atau tidak akan ada pelangi tanpa ada hujan sebelumnya. Semoga saja. Kawan aku ingin ceritakan kepadamu tentang hati, juga tentang kerendahan, juga tentang naik turunnya perasaan. Kawan, rasa senang yang berlebih justru banyak mematikan hati, banyak tertawa membuat kita hanya hidup dalam kefanaan. Itulah kesenangan, hal yang dulu kita agungkan, sesuatu yang kita kejar mati – matian. Namun sepakatkah engkau bahwa justru tangislah yang membuatmu hidup, hidup dalam kesejatian. Dengan tangis engkau merasa dirimu lemah, tangis lah yang menyadarkan bahwa engkau hanya lah hamba di muka bumi ini. Tangis lah yang membuat mu sadar bahwa engkau butuh sandaran. Kemudian engkau mencari sandaran, engkau mendatangi Tuhan, engkau meminta sahabatmu datang, engkau tergugu, meratapi betapa malangnya dirimu. Engkau berdoa kepada Tuhanmu, untuk diberi kekuatan. Engkau meminta gurat senyum diwajahmu dikembalikan. Sungguh Tuhan Maha Mendengar setiap do’a dari hamba – hambanya yang meminta. Dia mengabulkan permohonanmu. Tapi benarlah bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa. Tuhan mengembalikan senyumanmu. Kemudian engkau tersenyum, tapi engkau terlalu berlebihan. Engkau tidak hanya tersenyum, engkau tertawa, tidak hanya tertawa, engkau sampai terbahak – bahak. Tertawa berlebihan membuatmu lupa pada Tuhan, bahwa kesenanganmu hari ini datang dariNya. Kemudian Tuhan kirimkan kesedihan padamu, untuk mengundang tetesan air mata jatuh dari matamu. Akhirnya kau menangis, dan engkau kembali ingat Tuhanmu. Ah memang manusia memang lalai. Kawan dimanapun kau berada, dikala susah ataupun senang, diantara tawa dan tangis, selalu ingatlah pada Tuhan. Semua itu datang dari-Nya. Jangan berlebihan. Jangan terlalu jumawa saat engkau diatas, dan jangan merasa rendah diri saat dibawah. Aih tadi sampai mana ceritaku. Oiya tentang aku dan dia. Kawan aku baru tersadar, ketika sahabatku menepuk bahuku sambil berseru “Hey sudah adzan shubuh tu, ayo ke Masjid”. Aku baru tersadar bahwa ternyata “aku dan dia” hanya ada dalam mimpi, bunga tidurku malam ini. Aissssh baiklah.
Komentar
Posting Komentar