Menjadi Pemuda yang dinaungi Allah (Bagian 1)
Umur manusia terbatas. Semua yang
hidup pasti akan merasakan kematian. Sekali – kali tidak ada yang abadi. Semua
akan mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang pernah dilakukannya, termasuk
manusia. Apa yang kita kerjakan hari ini di dunia, akan menentukan bagaimana
nasib kita kelak di akhirat.
Sebagai seorang muslim kita meyakini
bahwasannya ada kehidupan setelah mati. Ialah hari pembalasan. Setelah kita
meninggal kita akan menuju alam kubur, dan setelah itu kita akan dibangkitkan
dari alam kubur, kemudian Allah menggiring dan mengumpulkan manusia di Padang
Mahsyar untuk menunggu keputusan-Nya.
Di padang mahsyar kita berada pada
tingkat kecemasan yang sangat tinggi. Tentang hal ini, dijelaskan bahwa sesampai di Padang
Mahsyar semuanya dalam keadaan telanjang. Pasti di benak kita sebagai manusia normal pasti akan
berpikir macam-macam, lalu timbul berbagai pertanyaan, tidakkah manusia akan bernafsu melihat lawan
jenisnya yang telanjang. Sungguh tidak. Mereka tidak memperdulikan satu
sama lain. Mereka juga tidak saling melihat atau malu-malu. Perasaan seperti itu
sudah tidak ada dalam benak mereka, ini disebabkan oleh perasaan yang terlalu takut
dan gawatnya keadaan kala itu, sehingga saling melihat atau malu tidak sempat
memperhatikan atau memfungsikan rasa. Dalam sebuah hadits Rasulullah dijelaskan yang artinya, “Aisyah
berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Manusia akan dikumpulkan pada
hari kiamat dalam keadaan tanpa sandal, telanjang tanpa pakaian dan tanpa disunat.’
Kemudian aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah para laki-laki dan perempuan
saling memandang satu sama lain?’ Rasulullah pun menjawab, ‘Wahai Aisyah
masalah yang akan dihadapi lebih penting dari pada hal itu.’ Dalam riwayat
lain, ‘Masalah yang akan dihadapi lebih penting daripada sekedar saling melihat
satu dengan yang lain,’” (HR Muttafaq Alaih).
Hal ini terjadi dikarenakan intensitas kecemasan yang begitu tinggi pada saat itu. semua orang mengalami ketakutan yang tinggi atas apa yang akan terjadi pada
dirinya. Apakah Allah akan mengampuninya atau akan mengazabnya sehingga tidak
ada keinginan sama sekali untuk berbuat yang tidak senonoh, walaupun semua orang dalam keadaan telanjang.
Kemudian juga digambarkan bahwa
matahari didekatkan ke kita, ketika manusia menghadap Rabb sekalian alam
semesta, matahari mendekat sejauh satu mil dari mereka, sehingga manusia
berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan manusia sesuai dengan
amalan masing-masing ketika di dunia. Dijelaskan di dalam Hadits al Miqdad bin
al Aswad yang diriwayatkan Imam Muslim : “Dari al Miqdad Radhiyallahu anhu , ia
berkata : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
: “Pada hari Kiamat, matahari akan mendekat (kepada) makhluk (manusia) hingga
jaraknya dari mereka seperti ukuran satu mil”. Sulaim bin ‘Amir berkata,”Demi
Allah! Aku tidak mengerti yang dimaksud dengan satu mil tersebut, apakah ukuran
dunia ataukah mil yang digunakan sebagai alat celak mata?” Beliau berkata:
“Sehingga manusia berada sesuai dengan ukuran amalannya dalam keringatnya. Ada
di antara mereka yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai
kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang keringatnya
menenggelamkannya. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan
isyarat dengan tangannya ke mulut beliau”. (HR Muslim).
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata :
“Jarak satu mil ini, baik satu mil yang biasa atau mil alat celak, semuanya dekat.
Apabila sedemikian rupa panasnya matahari di dunia, padahal jarak antara kita
dengannya sangat jauh, bagaimana jika matahari tersebut berada satu mil di atas
kepala kita?”
Hingga manusia bercucuran keringat
dan keringatnya menenggelamkan mereka. Ada yang hanya mencapai kedua mata
kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta
ada yang keringatnya menenggelamkan mulutnya. Bahkan sampai ada yang
keringatnya melampaui kepalanya.
Di dalam kondisi seperti ini, maka
sungguh, tidak ada yang dapat menaungi kita kecuali Allah. Dan tentu kita pasti
ingin termasuk orang – orang yang kelak dinaungi oleh Allah. Mari kita sejenak
belajar akan hal ini, agar kita dapat menjadi bagian dari orang-orang yang
diberi naungan oleh Allah saat di Padang mahsyar nanti. Berikut hadits tersebut
:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak
ada naungan kecuali naungan-Nya: Imam yang adil, seorang pemuda yang
tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, seorang yang hatinya bergantung ke
masjid, dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul
karena-Nya dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh
seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata,
‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan seseorang yang bershadaqah dengan
satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa
yang diinfaqkan tangan kanannya, serta seseorang yang berdzikir kepada Allâh
dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” [HR al Bukhari dan Muslim]
Dari hadist tersebut, kita dapati
penjelasan diantaranya sebagai berikut, terdapat tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam
naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya :
1. Pemimpin yang Adil
Amanah kepemimpinan mempunyai
kepemimpinan mempunyai peluang besar untuk memberi kita pertolongan di hari
pembalasan nanti, walau memang peluang ini sebanding dengan tantangannya.
Jikalau kita tidak berhati-hati maka justru kepemimpinan akan mengantarkan kita
ke neraka. Maka kita harus memperhatikan betul mengenai hal yang satu ini.
Pastikan kita siap dan kita mampu untuk mengemban amanah yang satu ini. Jika
dirasa tidak mampu, maka jauh lebih baik kita menyerahkannya kepada seseorang
yang lebih mampu. Tentu sebelum kita memulai tugas kepemimpinan kita perlu
faham betul mengenai bagaimana menjadi seorang pemimpin. Kemudian yang kedua
adalah adil, adil disini paling tidak terdapat tiga hal yang harus dipenuhi,
yakni : meletakkan
sesuatu sesuai porsi atau tempatnya,
tidak melampaui
batas, dan tidak menyia-nyiakan
2. Pemuda yang tumbuh berkembang dalam beribadah kepada Allah.
Pertama kita perlu memahami makna
pemuda terlebih dahulu, paling tidak terdapat tiga fase kepemudaan, pertama
adalah fase awal, fase menengah, dan fase akhir. Fase awal yakni usia SLTP,
fase menengah yakni usia SLTA, dan fase akhir adalah fase kita hari ini, yakmi
usia mahasiswa. Maka pertanyaannya adalah, bagaimana fase awal kita, bagaimana
fase menengah kita, apakah kita sudah yakin bahwa kala itu kita isi untuk
beribadah kepada Allah, atau justru usia kita habis untuk melakukan maksiat.
Apakah dari fase awal hingga sekarang kita sudah mengumpulkan cukup
amal baik? Padahal saat ini kita sudah mendekati tahap akhir sebagai pemuda,
kita sudah di fase akhir. Jika memang kita merasa amal baik kita belum cukup,
maka ini selayaknya mampu menggerakkan diri kita untuk segera berbenah.
Kemudian yang kedua maknda daripada ibadah, ibadah disini dimaknai bukan hanya
ibadah mahdah semata, bukan hanya ibadah yang sifatnya hablumminallah atau
hubungan kita dengan Allah saja seperti shalat, tilawah Al Quran, puasa, dsb.
Namun juga ibadah ghairu mahdah, yakni ibadah yang erat kaitannya dengan
hablumminannaas. Yang dimaksud ibadah ghairu mahdhah
berarti mencakup semua perilaku manusia yang hubungannya dengan sesama manusia,
yaitu dalam semua aspek kehidupan yang sesuai dengan ketentuan Allah swt, yang
dilakukan dengan ikhlas untuk mendapat ridho Allah swt. Ibadah ghairu mahdah
mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah baik berupa
perkataan atau perbuatan, lahir maupun batin yang mencakup seluruh aspek
kehidupan seperti aspek ekonomi, sosial, politik, budaya, seni, pendidikan,
dsb. Maka sebagai mahasiswa tentu banyak peluang yang bisa kita kerjakan untuk
melaksanakan ibadah ghairu mahdah. Kita ketahui bersama kita memiliki organisasi
mahasiswa, lembaga minat bakat, lembaga yang bergerak di bidang riset, dan
segala bentuk aktivitas kemahasiswaaan yang lingkupnya adalah social
masyarakat. Organisasi tersebut memiliki banyak aktivitas social yang
orientasinya adalah pengabdian. Maka kita bisa memanfaatkan untuk aktif
membantu dalam kegiatan itu. Selama kita niatkan untuk ibadah kepada Allah
untuk mendapatkan ridha-Nya maka insha Allah itu juga termasuk kedalam ibadah
kepada Allah.


Komentar
Posting Komentar