Sambutan terakhir Aam Nugroho, sebagai Presiden BEM PENS 2017/2018.


Kebersamaan yang Abadi

Sepertinya baru kemarin ketika Al  Qur’an diletakkan diatas kepalaku, dan Kelvin sebagai Ketua DKM menuntunku mengucap sumpah jabatan satu periode kedepan. Rasanya baru kemarin aku mengenal 13 keluarga kabinet yang nanti akan menemaniku mengarungi samudera perjalanan kepengurusan 2017/2018. Sepertinya baru kemarin, aku memberikan sambutan kepada Staff Muda Kabinet Bersama di Wellcome Party. Sungguh aku merasa semua ini benar – benar baru saja dimulai. Dan ternyata hari ini, malam ini, detik ini, kebersamaan ini harus segera diakhiri. Kebersamaan yang sebenarnya enggan tuk di akhiri.

Ingin ku bertahan dalam bingkai kebersamaan ini. Namun aku sadar bahwa perubahan adalah keniscayaan. Aku memahami sebuah kaidah bahwa setiap awal pasti ada akhir, dan setiap yang dimulai pasti akan selesai. Begitupun dengan Badan Eksekutif Mahasiswa PENS, sebagai organisasi eksekutif tertinggi di Keluarga Mahasiswa PENS sudah dujung masa transisinya.

Kawan – kawan ingin aku sampaikan sebuah ilmu yang telah menjadi pengalaman. Memimpin bukan jalan yang mudah untuk dilewati. H.Agus Salim menasehatkan “Een Leidersweg is Een LijdenSweg, Leiden is Lijden. Memimpin menderita.
Bagaimana tidak ?
Saat kita telah berusaha keras namun justru hujatan yang kita dapat. Saat kita telah memberi yang terbaikn namun justru kegagalan yang kita dapat. Saat kita telah mengorbankan semua yang kita punya tapi tidak ada apresiasi barang sedikitpun.
Namun aku sadar jalan yang aku pilih bukanlah jalan yang lurus terbentang penuh sambutan dan hiruk pikuk tepuk tangan. Jalan ini jalan berkelok penuh kerikil dan duri. Baik buruknya, pahit manisnya, semua itu adalah sebuah proses, proses menuju keikhlasan.
Itulah keikhlasan,
Yang terhujat, dicaci, dimaki, dan dimusuhi.
Itulah keikhlasan,
Yang terdiam digemuruhnya tepuk tangan. Tegar dan kuat diantara ombak dan badai.

Sebenarnya kita bisa saja marah, berteriak, memilih pergi, memilih menjauh, memilih hilang. Memilih kembali ke zona nyaman kita sebelumnya. Lari dari semua problematika yang membuat pening kepala ini. “Sungguh lemahlah bagi yang lemah, mundurlah bagi yang mundur, pergilah bagi yang tak kuat bertahan. Silahkan bagi yang ingin mengalami kefuturan. Sekiranya semua telah sepakat untuk berhenti mengusung kemuliaan ini, aku akan tetap disini, bertahan hingga kemenangan yang nyata datang memuliakanku.”

Pilihan untuk bertahan adalah pilihan kebojaksanaan. Itulah kedewasaan. Percayalah bahwa bayaran atas ini semua nyata adanya. Meski memang bayaran itu tidak bisa kita terima saat ini juga. Karena begini kawan, jika yang kita tanam pohon jati, maka boleh jadi 20 atau 30 tahun lagi baru kita petik manfaatnya, ini berbeda dengan pohon padi yang boleh jadi 6 bulan sudah kita bisa panen hasilnya.
Sungguh, bayaran atas itu semua adalah berupa karakter. Dan karakter itulah yang akan membentuk takdir hidup kita dimasa mendatang. Kita memang tidak pernah mengerti mengenai masa depan kita nanti, tapi yang bisa meramal bahwa takdir hidup kita adalah takdir baik adalah kelakuan kolektif kita, kalau hari ini kita berbuat baik maka inshaAllah Allah akan berkenan memberikan takdir baik untuk kita di kemudian hari.

Satu tahun ibarat mengarungi lautan penuh terjangan ombak dan badai. Ombak dan badai yang seringkali membuat kapal ini terhuyung kesana kemari. Namun satu prinsip yang menguatkan, tidak ada pelaut ulung yang lahir di ombak yang tenang.
Ujian dan masalah silih berganti, datang tak kenal permisi. Namun aku faham, menjadi nahkoda harus tegar. Itu harga yang harus dibayar. Kami percaya bahwa tabir yang memisahkan kami dengan keberhasilan hanyalah keputusasaan. Tetaplah semangat dalam Berkarya, sekali pun jangan pernah pasrah dengan keadaan dan menyerah pada keputusasaan.


Kawan – kawan, pada hari ini, Selasa, 23 Januari 2018, dengan dilantiknya saudara Ahmad Faiq Naufal, maka secara resmi saya serahkan tongkat pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa PENS yang didalamnya melekat tugas, wewenang, dan tanggung jawab. Selamat menjalankan amanah yang berat, namun mulia.
Pergantian di tubuh Badan Eksekutif ini bukan hanya wujud regenerasi yang sehat, namuun hal ini merupakan angin segar tentang perubahan. Sebuah perubahan yang harus terus berjalan dalam sebuah organisasi agar tetap mampu menghadapi kondisi global yang semakin dinamis.
Sebagai salah satu Staff Muda saya di Kementrian Sosial Kebangsaan serta berbagai track record yang pernah dilalui, saya meyakini bahwa Saudara Faiq dengan kapasitas dan pengalaman yang dimilikinya, mampu membawa BEM PENS sebagai organisasi eksekutif tertinggi di KM untuk membawa Keluarga Mahasiswa PENS kearah yang lebih baik lagi.

Kawan – kawan saya juga ingin sampaikan, tercapainya 86 % Visi Misi saya, dan 75 % untuk GBPK (Garis Besar Program Kerja), tidak lain dan tidak bukan atas kerja keras seluruh Fungsionaris BEM PENS Kabinet Bersama, serta tak lupa berkat peran aktif dan partisipasi seluruh Warga PENS.
Disamping ungkapan rasa syukurAlhamdulillah kepada Allah Yang Maha Kuasa, ucapan terimakasih juga ingin saya sampaikan kepada seluruh elemen di Keluarga Mahasiswa PENS. Terimakasih keoada Badan Pengurus Harian, Jajaran Menteri di Kabinet, Seluruh Staff di Kabinet Bersama BEM PENS 2017/2018. Terimakasih kepada seluruh keluarga besar BEM, Kolaborasi, Inspirator Muda, Abhipraya, dan seluruh Kabinet BEM pendahulu. Terimakasih kepada Jajaran Ketua Ormawa, Presidium KM PENS 2017/2018. Kepada para alumni. Serta kepada seluruh rangkaian mozaik warna warni kehidupan di Keluarga Mahasiswa PENS. Juga tak lupa saya sampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak/Ibu di Kursi Birokrasi, Bapak/Ibu Dosen dan Karyawan, Bapak bapak Security, serta seluruh civitas akademika PENS yang saya tidak dapat sebutkan satu persatu.

Terakhir dari saya, Mohon maaf sebesar – besarnya atas segala khilaf, atas segala kesalahan yang saya perbuat secara sengaja atupun tidak.
Kutitipkan Cintaku pada kalian. Semoga cinta ini terus membara, semoga semangat bersama ini akan tetap abadi, menemani setiap langkah dalam berkarya.
Salam Cinta, 
Paminto Nugroho, 
Mahasiswa Teknik Elektronika 
PENS angkatan 2015.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Umat Terbaik bagi Manusia

Merefleksikan Makna Kemandirian

Menjadi Pemuda yang dinaungi Allah (Bagian 1)