Berdua bersama Hujan.

Kali ini aku akan berkisah tentang hujan. Ini ceritaku bersamanya, petemuan beberapa waktu yang lalu.  Pertemuan yang sebenarnya tidak direncanakan, sama sekali. Disebuah taman yang rindang, di salah satu sudut kota pahlawan. Lebih tepatnya hujan yang mendatangiku, tanpa permisi. Ketika itu aku sedang merenung tentang sesuatu. Aku memikirkan tentang hidup, betapa aku merasa hidup ini sulit bagiku. Banyak cobaan datang silih berganti, satu belum selesai sudah datang yang lain. Aku memang biasa kesana saat aku butuh kesendirian, butuh ketenangan. Tidak ada yang membersamai kecuali keheningan. Ketika aku mulai melamun tak tentu arah, hujan mengagetkanku. Datang tak permisi. Begitu cepat dia membasahi sekujur tubuhku.
Kawan, sebelum aku melanjutkan ceirtaku, aku ingin bertanya padamu apa yang engkau rasakan saat kau bertemu dengannya? Baiklah mungkin kau mau mendengar jawabanku terlebih dahulu. Baik, aku akan memberitahumu. Aku akan menjawab pertanyaan yang aku tanyakan padamu itu. Satu hal yang aku rasakan dari hujan yang mungkin tidak dimengerti oleh orang lain adalah hujan mampu mendamaikanku. Dalam setiap rintik air yang jatuh di permukaan bumi, setiap tetesnya yang penuh arti. Tidakkah kau melihat sebuah pelajaran darinya? Selayaknya kita belajar dari hujan. Hujan tetap rela datang terus menerus ke bumi. Meski hujan tau bahwa dengan kedatangannya ke bumi menyakiti dirinya. Bahwa setiap jatuhnya titik titik air ke permukaan bumi akan membuatnya perih. Tapi hujan tetap datang memenuhi janjinya. Tak pernah ingkar walau sedikitpun. Hujan mengerti bahwa sakit yang dia rasakan akan sebanding dengan kebahagiaan yang diterima makhluk bumi.
Kawan tahukah engkau apa yang aku lakukan ketika hujan berusaha menyalamiku, aku justru berlari, berusaha meminimalisir basah kuyup di tubuhku, berlari kesana – kemari aku mencari tempat berteduh. Apa kau juga sama kawan? Mungkin dalam kondisi normal memang wajar. Tapi kala itu aku bimbang dalam langkahku. Aku merasa hujan sangat tulus mendatangiku, berusaha menunjukkan kepeduliannya kepadaku dan bumi. Seperti kalimatku sebelumnya, bahwa hujan salah satu Rahmat-Nya. Maka apakah benar yang aku lakukan dengan berlari? Aku mencari kesendirian, agar aku dapat menemukanMu dalam hening. Lalu engkau datang dengan tanda Rahmat-Mu justru aku berpaling. Ahhh, belum genap sepuluh langkah aku melangkah, aku berhenti. Ku dongakkan kepala ku keatas. Aku biarkan tetes demi tetes mengalir deras diujung pipi ku. Ku rasakan setiap alunan irama dari tetesan air yang menghujam bumi. aku benar – benar merasakan kehadiran-Mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Umat Terbaik bagi Manusia

Merefleksikan Makna Kemandirian

Menjadi Pemuda yang dinaungi Allah (Bagian 1)