Menggali Makna di Usia Muda
Gagagasan #makna_muda hadir atas dasar keresahan. Keresahan atas tidurnya macan asia. Macan yang harusnya mampu mengaung dan mampu menjadi pemimpin diantara Negara-Negara lainnya justru sedang tertidur pulas. Alih-alih untuk memimpin. Macan ini pun lupa tentang siapa dirinya. Dalam kenyamanan tidur itulah ingatannya tentang masa lalunya sedikit demi sedikit dihapus. Dihilangkanlah seluruh sejarah heroisme nenek moyang dan para pendahulu di ingatanya. Kita lupa bahwa kita adalah Sriwijaya yang berkuasa di abad ke-7, kita adalah Majapahit yang berkuasa di abad ke-14, dan kita adalah para pejuang ulung yang tak kenal menyerah dalam berjuang, kita adalah manusia-manusia pemberani yang nekat melawan meriam dan tank dengan hanya bermodalkan bambu runcing. Berkaca pada masa lalu untuk kemenangan masa depan, rasanya kalimat tersebutlah yang sangat kita perlukan untuk hari-hari kedepan ini. Kita adalah macan yang tertidur. #makna_muda hadir guna kembali menggali berbagai makna terpendam pada setiap kejadian yang selama ini jarang terangkat, dengan harapan dapat lebih membakar semangat perjuangan generasi muda agar dapat lebih memaknai kehidupannya.
![]() |
| Sumber gambar : https://www.lazada.co.id/products/sticker-stiker-peta-indonesia |
Pernah nggak sih kita melihat peta Negara kita tercinta ini? Bahwa ternyata Negara kita itu begitu luas. Terbentang dari Sabang hingga Merauke, Indonesia memiliki 17.499 pulau, dengan fakta tersebut Indonesia menjadi Negara kepulauan terbesar di dunia. Membentang dari ujung barat hingga ke ujung timur dengan tiga zona waktu yang kita miliki menunjukan betapa luasnya Negara kita ini. Belum lagi jika kita bicara mengenai sumber daya alam, begitu banyak harta karun yang terpendam di Bumi Indonesia ini. Mulai dari minyak bumi, gas alam, batu bara, tembaga, dan logam mulia yang lain. Selain itu Indonesia juga merupakan Negara agraris dengan luas lahan pertanian yang cukup melimpah jika dibanding dengan Negara - Negara lain, yang artinya ini harusnya mampu dimanfaatkan untuk swasembada pertanian. Indonesia juga Negara dengan hasil perkebunan dan hutan yang begitu beragam, mulai dari rempah-rempah, kopi, karet, tembakau, kelapa sawit, dan banyak lagi. Indonesia yang juga merupakan Negara maritim dengan 2/3 dari total luas wilayahnya adalah lautan menyimpan begitu banyak potensi laut. Selain semua sumber daya alam yang begitu melimpah tersebut indonesia juga mempunyai sumber daya manusia dengan kuantitas yang juga begitu banyak. Bahkan Indonesia menempati urutan ke empat di dunia mengenai jumlah populasi penduduk di seluruh dunia. Dengan total sekitar 270 juta jiwa pada tahun 2020 lalu, harusnya sumber daya alam yang melimpah tersebut mampu diolah dan dimanfaatkan oleh sumber daya manusianya yang juga begitu melimpah. Dengan kekayaan alam dan kuantitas jumlah penduduk Indonesia yang begitu melimpah tersebut harusnya lebih dari cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara maju dan sejahtera. Namun jika melihat kondisi dan fakta di lapangan nyatanya kemajuan dan kesejahteraan tersebut masih menjadi mimpi belaka.
Mengapa hal ini begitu penting untuk dibahas? Karena seringkali kita lupa bahwa kita sejatinya seekor macan. Bahkan kita disebut sebagi macan asia. Namun macan yang garang itu kini tengah tertidur. Terninabobokkan oleh penjajahan era modern yang tanpa kita sadari membuat kita begitu merasa tenang berada di zona nyaman kita saat ini. Penjajahan berupa kenyamanan itu lah yang pada akhirnya membuat kita susah untuk berkembang dan merasa sudah cukup dengan apa yang diraih saat ini. Berbeda dengan konsep syukur yang harusnya selalu merasa cukup, jika dalam konsep menuntut ilmu justru sebaliknya, kita harus selalu merasa bodoh dan haus akan ilmu, kalau kata Steve Jobs, “Stay Hungry. Stay Foolish”. Diluar dalam konteks ilmu, berkembang disini juga berkaitan dengan karya, hal apa yang sudah kita hasilkan dan berikan untuk Negara kita tercinta ini, jika kata John F Kennedy, “Jangan tanyakan apa yang Negara ini berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada Negaramu”. Jika kita bersedia meluangkan waktu untuk merenung betapa sudah banyak sesuatu yang Indonesia berikan kepada kita. Mulai dari tanahnya yang kita pijak, oksigennya kita hirup, airnya kita minum, sumber daya alamnya kita olah. Alangkah kufur nikmat kita jikalau semua hal itu tidak menggugah kita untuk berkarya dan memberikan sesuatu kepada Indonesia yang telah begitu baik kepada kita ini.
Lalu, apa kiranya kontribusi dan karya yang bisa kita berikan kepada Indonesia?
Pertama kita harus menyadari bahwa kita bukan sekedar object dari perubahan, namun kita adalah subject yang artinya kita adalah bagian dari perubahan itu sendiri. Perlu kita tanamkan kedalam diri kita bahwasanya Indonesia yang begitu cantik dan mempesona ini ialah milik kita. Kita adalah pribumi, yakni penghuni asli tanah Indonesia ini. Sebagaimana seorang pemilik, maka kita mempunyai hak atas apa yang kita miliki, sekaligus bertanggung jawab atasnya. Artinya bahwa kita berhak untuk berdikari mengelola kekayaan alam kita dengan kemandirian penuh. Kalaupun ada kerjasama dengan asing pun maka seharusnya kita menjadi pemain utamanya, bukan sekedar pemain pendukung atau bahkan hanya sekedar menjadi penonton. Dan memang seharusnya seperti itulah yang terjadi, meski fakta dilapangan mengatakan sebaliknya, itu bukan berarti kemudian kita dapat membenarkan yang biasa, namun seharusnya kita membiasakan kebenaran. Oleh karena itulah status quo yang sekarang ada sudah selayaknya kita lawan dan coba mencari dan menemukan antitesisnya. Kesadaran atas kepemilikan Bumi Indonesia inilah yang perlu dengan tegas kita tanamkan kepada diri kita dan kepada seluruh pemuda sebagai generasi penerus tongkat estafet kepemimpinan Negeri, agar supaya keputusan yang diambil dapat tepat dan tidak salah langkah. Mengapa perasaan kepemlikan demikian penting untuk ditanamkan? Karena perasaan kepemilikan itulah yang menjadi api semangat yang membakar jiwa perjuangan kita dalam upaya mensejahterakan kehidupan Bangsa. Itulah yang disebut dengan Nasionalisme. Sehingga kesimpulannya adalah, langkah pertama semua pergerakan yang akan kita mulai kedepan adalah dengan mulai memaknai hidup ini bukan sekedar main-main saja tapi bagian dari menjalankan peran sebagai Khalifah fil Ard. Lalu secara teknis bagaimana? Mari kita bahas pada artikel selanjutnya. Stay tune!

Komentar
Posting Komentar