Peran Pemuda Sebagai Mahasiswa Dalam Menyongsong Indonesia Emas 2030




Akan seperti apa indonesia ini sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang bisa kita lihat dari pemudanya. Jika pemuda nya baik maka sudah bisa dipastikan masa depan indonesia akan cerah, namun sebaliknya jika pemudanya rusak, maka sungguh masa depan yang suram untuk indonesia ini. Bagaimana tidak, pemuda adalah agen perubahan. Kita ketahui bersama bahwa dalam setiap perjalanan sejarah indonesia, pemuda selalu hadir membersamai perubahan tersebut. Mulai dari tahun 1928 yang merupakan peristiwa sumpah pemuda. Kemudian pada tahun 1945, ketika pada waktu itu pemuda mendesak soekarno dan hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa rengasdengklok, dan seterusnya sampai kemudian pada tahun 1998 yang mana pemuda pada saat itu sudah kita kenal dengan istilah mahasiswa, mereka turun bersama sama dengan masyarakat untuk menumbangkan rezim yang pada waktu itu dirasa sangat mencekik rakyat. Saya tidak membahas panjang mengenai perjalanan sejarah, namun point yang ingin saya sampaikan bahwa pemuda selalu hadir dalam setiap perjalanan dan perubahan zaman. Ini membuktikan bahwa kita memiliki potensi yang besar.
Pemuda adalah kekuatan ditengah tengah kelemahan, yang artinya kita diposisi yang matang. Matang dalam artian kondisi fisik dan pemikiran pada puncaknya. Pemuda adalah kaum yang identik dengan energi yang masih prima, kemudian dengan pemikiran yang masih sangat segar, serta idealisme yang masih membumbung tinggi tentu menjadi bekal yang ideal untuk melakukan perubahan-perubahan  ke arah perbaikan negeri ini. Maka dengan begitu sudah sepantasnya kita memahami peran fungsi kita sebagai pemuda. Tugas besar ada dipundak kita. Masyarakat menaruh harapan yang lebih kepada kita.  
Tema kita pada diskusi kali ini adalah “Pemuda dan peranannya demi terwujudnya pembangunan Indonesia yang berkelanjutan menyongsong Indonesia Emas 2030.“

Baik untuk tidak memperpanjang kata.
Pertama saya ingin menyampaikan terkait tantangan hidup dimasa mendatang, yang ternyata setelah saya coba kaji ternyata bukan semakin mudah namun justru akan semakin berat. Karena basicly, bidang keilmuan saya di dunia teknik maka izinkan saya sedikit memberikan pandangan dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa teknik. Teman – teman kita memasuki sebuah zaman yang disebut disruption era. Dimana di era disruption ini atau bisa juga kita sebut dengan Disruptive Technology. Teknologi mulai mengambil alih peradaban, dimana sedikit demi sedikit peran manusia mulai tergantikan. Setahap demi setahap andil manusia mulai dihilangkan. Efektivitas dan efisiensi lah yang menjadi alasan. Hal ini berkaitan juga dengan revolusi industry, dimana menurut Prof Klaus Schwab terdapat 4 fase.
Hari ini kita telah berada pada fase ke 4 atau Revolusi Industri 4.0. Dimana revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental.  Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, Jika di awal revolusi industri dimulai dengan penemuan mesin uap, yang kedua ditemukanya enerji listrik, yang ketiga ditandai dengan masuknya sistem otomatisasi. Maka 4.0 adalah integrasi dari kesemuanya. Revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah. Bidang-bidang yang mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi baru diantaranya (1) robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), (2) teknologi nano, (3) bioteknologi, dan (4) teknologi komputer kuantum, (5) blockchain (seperti bitcoin), (6) teknologi berbasis internet, dan (7) printer 3D.
         Kalau hari ini kita ribut masalah transportasi online, maka sejatinya ada hal yang lebih besar dari itu. Sekedar informasi, 3D printing mulai menggeser pekerjaan konstruksi, retail berupa toko2 mulai hilang karena transaksi online, dunia perbankan juga akan segera lenyap jika tidak melakukan self-disruptive, dunia kesehatan mulai banyak dimasuki teknologi yg mana bukan tidak mungkin pekerjaan2 analis akan juga tergantikan oleh sensor2 elektronik. Dan lain sebagainya. Tentu masih sangat banyak, hamper semua aspek kehidupan akan ter-disrupsi.
Maka hal pertama yang perlu kita lakukan sebelum jauh melangkah adalah "sadar" akan fenomena tersebut. Bahwa tantangan masa depan ternyata begitu berat. Masa depan tidak bisa dibeli dengan instan. Perlu proses perjuangan yang panjang.
Namun kawan kawan kita tidak boleh pesimis melihat realita hari ini. Kita harus tetap optimis. Karena ternyata juga terdapat peluang yang dapat mengantarkan kita guna menuju kemenangan. Peluang yang tentu dapat kita manfaatkan untuk kita dapat menghadapi tantangan diatas.
Peluang itu adalah bonus demografi,  ini merupakan suatu kondisi dimana penduduk usia produktif (15-64 tahun) mengalami jumlah terbesar dibandingkan dengan proporsi penduduk usia non-produktif. Dikatakan sebagai "bonus" karena kondisi ini tidak terjadi secara terus menerus melainkan hanya terjadi sekali dan tidak bertahan lama. Karena pada proporsi penduduk ini, terdapat suatu keuntungan yang bisa dinikmati oleh suatu negara sebagai batu loncatan untuk memajukan negara yang bersangkutan. Didalam ilmu demografi, kondisi ini disebut Bonus Demografi. Dan Indonesia diprediksi akan mengalami Bonus Demografi pada tahun 2020-2030 yang akan datang.  Transisi demografi sangat menguntungkan ketika penduduk usia produktif (15-64 tahun) mengalami jumlah terbesar dibandingkan dengan proporsi penduduk usia non-produktif. Karena pada proporsi penduduk ini, terdapat suatu keuntungan yang bisa dinikmati oleh suatu negara sebagai batu loncatan untuk memajukan negara yang bersangkutan. Didalam ilmu demografi, kondisi ini disebut Bonus Demografi. Dan Indonesia diprediksi akan mengalami Bonus Demografi pada tahun 2020-2030 yang akan datang. Bonus demografi ini tentu akan membawa dampak sosial-ekonomi. Salah satunya menyebabkan tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk nonproduktif akan sangat rendah. Dengan adanya kondisi bonus demografi, tentu bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk memajukan kesejahteraan serta memakmurkan masyarakat apabila masyarakat usia produktif  memiliki kualitas sumber daya yang dapat menunjang serta memberikan kontribusi terhadap pembangunan negara. Apabila suatu negara gagal dalam memanfaatkan bonus demografi ini maka, jelas akan terjadi kerugian yang sangat besar bagi negara yang bersangkutan khususnya Indonesia. Maka dari itu, untuk meraih manfaat dari bonus demografi ini diperlukan usaha bersama dari seluruh lapisan masyarakat dan lembaga terkait serta pemerintah sebagai agent of development yang ada disuatu negara agar manfaat bonus demografi ini menjadi semakin kuat.
Hal hal yang perlu kita siapkan sebagai pemuda adalah
1.      Pertama harus menyadari kondisi tersebut. Memahami secara keseluruhan mengenai tantangan serta peluang masa depan.
2.      Kemudian yang kedua segera membuat perencanaan, perencanaan sekaligus secara bersamaan juga mulai melakukan mengimplimintasian rencana tersebut. Kita harus segera ambil peran. Hemat saya pergerakan adalah sesederhana tidak diam. Maka

-          Pertama kita perlu menentukan cita cita jangka panjang, kita mau berkontribusi kepada Indonesia ini dengan bidang apa. Di sector apa, sector public kah, sector privat kah, atau di NGO (non-government organization), dsb.
-      Setealah kita tau tujuan jangka panjang, kita perlu membreakdown terhadap jalan kontribusi saat ini. Karena hari ini adalah ruang lingkupnya pemuda yang berstatus mahasiswa, maka hemat saya terdapat jalan kontribusi yang secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 jalan, yakni *organisasi, minat bakat, riset dan keilmiahan. Terserah teman teman ingin aktif dimana. Pilihlah jalan sesuai passionmu. Dimanapun boleh. Yang tidak boleh adalah hanya berdiam diri di kelas.*

    Nah berkaitan dengan hal diatas sebagai mahasiswa yang memiliki peran fungsi diantaranya :
Mahasiswa sebagai “agent of change”
Mahasiswa sebagai “moral force”
Mahasiswa sebagai “social control”
Mahasiswa sebagai ‘iron stock”
    Kemudian dalam implimintasinya setelah kita melakukan tips diatas secara bersamaan saat menjadi mahasiswa kita perlu melakukan 4 hal ini :
1.      Pengembangan potensi diri sebagai kesadaran akan hakikat pendidikan yang mendasar.
2.       Melakukan kontrol kepada pemerintah terhadap penentuan arah kebijakan yang dijalankan.
3.       Berupaya untuk senantiasa memenuhi kebutuhan akan perbaikan dari sebuah sistem dI Indonesia.
      4. Terjun langsung ke masyarakat lewat gerakan horizontal
 
       Jangan hidup hanya memikirkan diri sendiri. Ingatlah pada setiap ilmu yang kita nikmati terdapat uang rakyat. Anis Baswedan pernah menasihati bahwa “di Indonesia ada jutaan anak masuk SD, tapi hanya ratusan ribu yang masuk kuliah. Itu artinya kalian punya kesempatan yang harus dimaksimalkan. Bukan untuk diri kalian sendiri, tapi juga untuk kemajuan bangsa. Belajar di dalam kelas memang penting, tapi tidak cukup. Mereka yang hanya belajar di dalam kelas cuma dapet selembar kertas nilai. Yang dicari bukan IPK, masa depan tidak bisa dibangun hanya dengan itu saja. Masih banyak potensi yang bisa kalian kembangkan. Dipundak kita terdapat tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat. Mahasiswa yang membedakan dengan siswa adalah peran dan fungsinya. Kata maha didepan siswa bermakna bahwa kita menuntut ilmu bukan semata mata untuk cerdas semata, namun bagaimana mampu merealisasikan peran fungsi kita sebagai mahasiswa dengan menebar manfaat seluas – luasnya.

    Apa yang barusan saya sampaikan hanya bersifat konseptual semata, tentu hal ini perlu diterjemahkan kedalam hal teknis dari prespektif teman2 dengan bidang keilmuan masing2. Semata2 diskusi ini untuk membuka kesadaran bahwa tantangan kedepan semakin berat. Namun kita tidak boleh pesimis karena ternyata juga terdapat peluang yang kita dapat manfaatkan untuk memenangkan tantangan yang ada.
    Dipundak kita terdapat tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat. Mahasiswa yang membedakan dengan siswa adalah peran dan fungsinya. Kata maha didepan siswa bermakna bahwa kita menuntut ilmu bukan semata mata untuk cerdas semata, namun bagaimana mampu merealisasikan peran fungsi kita sebagai mahasiswa dengan menebar manfaat seluas – luasnya.
Selamat bergerak. Perubahan akan terjadi saat kita memulai gerak. "Perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama" - Lao Tzu

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Umat Terbaik bagi Manusia

Merefleksikan Makna Kemandirian

Menjadi Pemuda yang dinaungi Allah (Bagian 1)