Pelajar di persimpangan.

Di akhir malam selalu saja berat bagi mata ini untuk terpejam. Teringat akan waktu perjuangan semakin habis seiring dengan bergantinya hari. Selalu teringat dan terfikir di dalam benak akan mimpi – mimpi yang dulu pernah ada didalam angan. Akankah mimpi – mimpi itu hanya sebatas mimpi atau benar – benar bisa terwujud nantinya. Sudah hampir satu semester aku disini. Bergelut di kampus perjuangan. Namun sepertinya apa – apa yang selama ini aku usahakan adalah sia – sia belaka. Semacam berjalan tapi sejatinya hanya berdiam di depan sebuah persimpangan. Terasa sulit dan selalu bertanya – tanya untuk melangkah kedepan. Bertahan atau pergi. Satu semester disini hanya dipenuhi dengan pertanyaan sederhana yang jawabannya sangat kompleks. Apakah aku akan bertahan, atau pergi. Tetap di dunia keteknikan yang sebelumnya tidak saya senangi, atau megambil bidang keilmuan sosial yang memang dari awal saya inginkan. Jalan mana yang akan diambil. Sejujurnya aku belum benar – benar betah berada disini. Sungguh hatiku belum sepenuhnya menerima semua kenyataan ini. Namun apa daya, manusia hanya mampu berencana, sedangkan hasil akhir berada di tangan Tuhan. Meski sebenarnya diri ini sudah mulai ikhlas menerima semuanya. Namun hati kecil ini masih terasa ada yang mengganjal. Tapi menyesali sesuatu yang sudah terjadi adalah sia – sia belaka. Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur, semuanya tidak bisa kembali seperti sedia kala. Yang perlu kita lakukan adalah menerima semuanya, menerima dengan penerimaan yang baik. Dan itulah yang setiap pagi aku tanamkan pada diriku. Bahwa Allah, Tuhan saya dan Tuhan kita semua tidak pernah salah dalam menuliskan takdir dari setiap hamba – hambanya. Percayalah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Umat Terbaik bagi Manusia

Merefleksikan Makna Kemandirian

Menjadi Pemuda yang dinaungi Allah (Bagian 1)